Langsung ke konten utama

Karir VS Ambisi tapi bukan pelarian

Ingat waktu masih single, semangat banget cari beasiswa keluar negeri. Semangatnya luar biasa, sampe manfaatin waktu senggang ditempat kerja cari info banyak-banyak buat bisa kuliah gratis sambil kerja sampingan disana. "Dimana ajah deh, yang penting keluar negeri. Awalnya sewaktu masih pendidikan D1 (sekretaris) perasaan "hina banget". "Oh, baru D1?"... sering banget topik ini  di bincangin lingkungan kerja. Udah cupu... ngak bisa gaul, ditambah bukan golongan mereka. Berasa hari-hari kerja beban banget, tapi ini tuntutan!

Sampe beraniin diri kuliah sambil kerja ditahun 1998, alhasil baru awal bulan kuliah, eeh raut wajah si boss nampakin wajah pengawas tiap kali mau pulang cepet. Terpaksa putus belum sampe tiga bulan. Balik lagi, kaya ngak punya dunia lain, bolak balik hari cuma dua dunia ini ajah yang ditemuiin, rumah-kantor.

Pengen banget dapat gaji mayan seperti rekan lainnya. Meski udah dipromosiin naik jabatan, gaji maah naik seadanya. Lanjut cerita perjalanan kerja tahun 2001 balik lagi pikiran sedih, kok hidup gini-gini ajah? Ditempat kerja jadi kaum minoritas, orang cupu yang jadi bahan ledekan gara-gara mahluk planet stress gangguin hidupku. Iiiih sumpah kalo inget balik jadi sebelnya masih berasa di ubun-ubun! Gara-gara dia aku jd bahan ledekan dikantor. Coba waktu itu kalo bisa dia dimusnahin aja!hihihi.... Cupu aku malah makin jadi bahan ledekan, ajaibnya lagi tuh cowok PD selangit puas banget bikin hari aku ancur tiap hari. Sampe aku ikut si boss pindah kantor, eeeh dia nga taunya ikutan! alamak, Tuhan... Apa standar aku cuma dia!!!   

Lupain cowok nyebelin itu, lanjut cita-cita pengen gaji besar. Tanggung jawabnya udah lumayan, Pas ngajuiin kenaikan yang ada si bos main bikin "break my hurt" hik hik...... katanya: "kamu kan pendidikannya cuma D1". Nyesek banget! Akhirnya setelah dipikir-pikir banyak sial kerja disana aku putusin berhenti kerja, terlebih terlalu banyak cerita paitnya! Bener ajah setelah ikutan kerja dikantor Bapak Dimas (rekan kerja Marketing senior diperusahaan sebelumnya) aku jadi lebih terbuka pikirannya, aku jadi banyak belajar menghargai diri, special makasihku buat pak Dimas, beliaulah yang banyak kasih peluangku buat berkembang pesat (meski aku juga ngak pernah pungkiri Dirut -Bapak Monang membuka peluangku lebih dihargai dan meyakini aku punya potensi maju). Senangnya lagi aku dihargai berdasar dari kemampuan dengan gaji dan fasilitas uang memadai meski hanya untuk 6 bulan, tapi disinilah batu loncatanku jadi lebih berkembang.

Sampai akhirnya, aku dihadapkan lagi sama kemauan pengen kuliah lagi ambil S1, sewaktu bekerja lanjutan di rekanan team kerja dari jasa Auditor  pak Dimas. Bersyukur kepindahanku pak Dimas terima dengan hati terbuka tanpa beban. Disinilah aku mantapkan kuliah lagi, kembali semangat "gara-gara ucapan HRD bilang: cuma Lulusan D1 ?!"

Mumpung semangat dan rejeki sudah memadai, aku lanjut kuliah jurusan Administrasi Niaga, yang menurutku cocok buat aku dalam dunia kerja bisnis. Aku jalani sambil kuliah dan bekerja, oiyah! Ada yang unik, mungkin inilah yang namanya jodoh sebelum kenal suami, kami satu organisasi Islam YISC Al Azhar.  Dulu suami dekat karena hubungan organisasi sama buat bisnis kecil-kecilan, karena masalah dengan uang akhirnya kami bertiga bubaran usaha. Belajar dari pengalaman, meski berteman cocok belum tentu usaha bareng cocok, yang ada kebongkar sifat serakahnya.

Teguh kutawarkan kuliah bareng, eeh dia ternyata mau, jadilah kami lebih banyak waktu ketemu. Ditambah dia yang merasa senang punya temen seperti aku...hihihi.... kami jalan ya... sebagai temen. Sampe akhirnya dia punya keberanian buat ngelamar aku pas di 2004 tanpa bilang apa-apa, tau-tau ngelamar ajah...'senang'! belum tentu....yang ada pikiran carut marut .... setelah dipikir masak-masak... akhirnya aku putuskan menerima putusan menikah, dan inilah jodoh aku. Mungkin juga dari doa-doa yang suka aku selipkan buat minta pendamping diwaktu yang tepat untuk hidup lebih baik lagi.

#ceritasesi 1#

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersama BNI Mengwujudkan Mimpi Kami

Pertama Kali Mengenal BNI Masih tergiang diingatan saya 13 (tiga belas) tahun yang lalu kisaran tahun 2003, pertama kali mengenal BNI . Ketika itu awal saya menitik karir di Jakarta dan semangat luar biasa dalam bekerja menjadi pegawai kantoran. Ketika itu saya bekerja sebagai Sekretaris merangkap GA ( General Affair ) di PT. Batasa Capital.  Logo kedua BNI kapal layar (1988-2004)   Logo BNI di tahun 2004 hingga kini Kala itu saya dipercaya perusahaan untuk membantu mengurus pembukaan rekening perusahaan terdekat yang berlokasi disatu gedung kantor yang berlokasi di Chase Plaza Jl. Sudirman, Jakarta. Saat itu ada dua bank berdekatan, tentunya kami memilih BNI dengan komitmen tinggi membantu mobalisasi perusahaan. Wuah, pengalaman banget bagi saya dan masih terbayang momennya. Disambut senyuman dan keramahan seluruh pegawai BNI 46 . Hanya beberapa saat menunggu kami sudah langsung dilayani dan langsung memiliki dua account perusahaan dengan identitas ...

Manfaat Daun Sirih

Daun sirih jenis pohon menjalar yang sangat mudah perawatan dan ditanamnya.  Tidak asing lagi bagi siapapun apalagi yang menikmati manfaatnya. Ada baiknya setiap rumah memiliki tanaman berkhasiat ini. Sudah tidak asing lagi bagi penjaja jamu menyediakan air daun sirih untuk tambahan ramuan jamu godok yang berkhasiat sebagai antiseptik bagi tubuh ketika di minum,  termasuk untuk Ms. V (aurat perempuan remaja dan dewasa)  agar hygienies dan kesat terawat. Selain itu air rebusan daun sirih sangat bermanfaat lho untuk kesehatan mata. Jika ditelusuri lebih detail lagi para pakar kesehatan maupun dokter berbaik hati berbagi tip kesehatan mengkonsumsi pemakaian daun sirih. Kali ini sesuai dengan pengalaman pribadi saya biasa menggunakan daun sirih untuk pengobatan mata, keputihan, luka dan perawatan tubuh.  Dok.Pri: Tanaman sirih merambat di rumah Berikut saya sampaikan khasiatnya, termasuk yang saya rangkum dari konsumsi serta pemakaian juga informasi online dari...

Pendaftaran Ponpes Husnul Khotimah

Baru sempat dan mendapatkan mood berbagi kisah pendaftaran pesantren anak di tanggal 18 Desember, sayang dilewatkan momen ini buat saya pun dapat mengenangnya secara pribadi,. Semoga bermanfaat juga buat teman-teman pembaca. Mendapatkan informasi referensi dari teman guru IQRO untuk lanjutan SDIT anak di Pondok Pesantren Husnul Khotimah (HAKA), awalnya ragu untuk maju mendaftar karena waktu yang sangat mepet hanya tersisa satu minggu lalu akan di tutup pendaftaran. Dengan di yakini oleh teman kedua teman guru Ibu Reni dan Ibu Iffah untuk perbaikan kualitas pendidikan anak dan menyerahkan kepada ahlinya, menjadikan saya berani meyakinkan suami untuk mendaftarkan anak pertama kami mendaftar dan ikut Tes PSB di HAKA. Dok.Pri: Lanika sedang berbaris persiapan upacara Putri kami tidak ingin pesantren sebelumnya, bila dengar kata pesantren yang ada dibenaknya adalah diasingkan dari keluarga, dikarenakan kesalahan cara penyampaian kami ketika emosi kepadanya jika dia nggak mau d...