" Dibalik Kesibukan Perempuan-Perempuan Indonesia, adakalanya butuh perkumpulan/pertemanan positif untuk melepas penat." Pernah nggak sih kamu punya sirkel pertemanan atau arisan yang jarang banget kamu datangi? Mungkin karena kesibukan pekerjaan, urusan domestik rumah tangga, atau fokus mengasuh anak, membuat kita absen berkumpul hingga hitungan tahun. Namun uniknya, begitu ada momen untuk bertemu kembali—seperti agenda perjalanan *rafting* dan duduk santai di hamparan hijau kebun teh—rasa canggung itu mendadak hilang and mencair begitu saja. Fenomena kehangatan sosial ini sangat melekat kuat pada karakteristik sirkel perempuan atau ummahat di Indonesia. Melalui kacamata psikologi sosial and sosiologi perilaku, dinamika pergaulan and komunikasi dua arah ini memuat beberapa poin esensi positif yang teramat mahal: 1. Daya Ikat Kultural (Cultural Affiliation & Collectivism): Ciri khas perempuan Indonesia memiliki kecenderungan psikologis gotong-royong and komunal yang tin...
Fenomena berinteraksi dengan siapapun adakalanya dihadapkan dengan masalah yang membuat sangat tidak nyaman. "Pernah nggak sih kamu berhadapan dengan seseorang yang jelas-jelas melakukan kelalaian, tapi pas dikonfrontasi dia malah sibuk membantah?" Di dunia kerja atau bisnis sewa-menyewa properti, momen seperti ini sering banget terjadi. Misalnya, saat berhadapan langsung dengan tenant atau penyewa unit yang mendadak menolak bertanggung jawab atas kerusakan atau urusan pembayaran yang memang tanggung jawabnya. Rasanya gemas banget, dan insting pertama kita pasti pengen buru-buru mengetik balasan panjang lebar demi membela diri. Tapi, yuk kita duduk santai dan ademin pikiran sejenak. Berdasarkan banyak pengalaman lapangan yang berharga, senjata terkuat dan paling mematikan kita sebenarnya adalah " Diam Mahal" ( The Power of Silence ) . Di dalam ilmu psikologi perilaku, ada alasan mengapa memilih diam dan menghentikan komunikasi atau ketikan chat di waktu yang tepa...