Senin, 23 Maret 2015

Pindah Sekolah

Tadi malam saya dibuat terharu oleh Miki. Sempat terlintas ketakutan Miki ngak bersedia saya pindahkan sekolah. Takut kalo saja bakal salah  mengambil keputusan, sudah pasti semua akan kembali kesaya karena firasat dan keputusan pindah atas kesepakatan dan dorongan saya ke suami.

Tega memang! Mikhail tidak pernah bisa mengerti dan tahu alasan kepindahannya meskipun saya menggunakan pendekatan bahasanya. Dia hanya tahu bakal pindah kesekolah baru.

Sepintas terdorong buat merajuk Miki semalam, setelah Lani selesai latihan piano.
"Miki, besok kesekolah baru, yuk.."
"Aku ngak mau!" Raut wajahnya berubah jadi sedih, akhirnya pecah tangisannya.
"Aku ngak mau, mah!"
"Kenapa? Kenapa ngak mau? Kenapa Miki nangis?"
"Ngak mau!" Menunggu berapa saat
"Nga mau, aku takut...malu.." dia bilang sambil menangis sesak...

MasyaAllah, mama tega banget ya nak. Bakal misahin terus ketemu sama teman baru meski adaptasi lagi. Bakal jauhin kamu sama teman kamu sekarang. Waduuh... gimana ya, nak! Apa firasat mama salah! Mindahin kamu kesekolah baru? Jangan-jangan sekolah baru justru tidak membawa kebaikan buatmu nak?! Ya Allah, nantinya bakal mama yang harus pertanggungjawabkan semua.

Mama takut kamu akan salah bergaul disekolah ini, mama takut kamu akan ketemu guru yang tidak sesuai dengan harapan mama seperti cerita orangtua lain yang mengalami anaknya di ajar sama guru kakak kelas kamu. Mama khawatir kamu akan banyak emosi menghadapi sekolah sekarang nantinya. Lihat saja nak! Kondisi sekolah sekarang lagi sulit. Mereka bermasalah. Mama sebelumnya ngak tahu sampai separah itu, yang mama tahu mama ingin kamu pindah naak!

Mama ngak ingin kamu temuin masalah yang sama seperti kakak, dengan guru tidak sesuai harapan.

Tapi mama juga takut mama salah menempatkan  kamu disekolah baru, dengan hanya mengutarakan alasan supaya kamu lebih bisa berwawasan luas dengan banyak teman dan  kegiatan.

Obrolan berlanjut ketempat tidur, sambil saya peluk dia dari belakang. Saya berberdoa dan berharap Miki paham yang saya sampaikan. Tuhan, tolong bimbing saya. Jauhkan prilaku dari kesusahan dan kesalahan mengambil keputusan. Hindarkan dari kesulitan. Setiap orangtua pastinya selalu mendoakan yang terbaik buat anaknya. Begitupun saya, memohon keridhoan Tuhan atas jalan yang akan Mikhail tempuh disekolah baru.

"Mikhail, mau apa? Mikhail mau kasih kado Bu Anah, temen-temen? Boleh kok... nanti Miki juga boleh dapat kado sambil mama temenin sekolah"..
"Bener, mah? Aku mau kasih Bu Anah kue, sama said (anak guru) baju, terus Fauzan sama Haris juga".
"Udah, itu ajah?" Ngak kasih yang lain?"
"Ngak, itu ajah"

Saya jadi tahu, begitu beratnya dia kehilangan dua sahabatnya, begitu sedihnya dia akan meninggalkan teman dan gurunya. Sewaktu saya tawarkan pemberian buat guru dan temannya, begitu girohnya dia. Sambil jingkrak kegirangan, ngak lupa dia senyum lebar sambil mencium saya dan bilang "makasih mama sayang".

Semoga langkahmu disekolah baru semakin penuh makna, nak. Mama  dan papa juga takut ketika sekolah meminta kamu lomba OSN (mama juga ngak ngerti itu lomba apa?) . Terpenting kamumpenuh suka cita, nak. Terpenting kamu dipenuhi keberkahan dan selalu dalam ridho Tuhan.

Semoga kelak harapan mama tentang sekolah SDN V benar adanya membawa kebaikan buat kamu kelak. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, tambah berkesan bila bersedia tinggalkan pesan, kritik dan saran buat tulisan saya...