Minggu, 01 Januari 2017

Pandangan dan Sikap Jelang Usia 40 Tahun

Di awal 1 Januari 2017 ini menjadi catatan buat penulis ketika mendapatkan buletin pembahasan kisaran usia 40 Tahun dan ingin berbagi informasi dengan pembaca. Berdasarkan referensi para ulama juga tulisan Dr. Wido Supraha pada buletin Dewan Mubaligh Indonesia untuk mimbar Jumat yang saya dapati dari tetangga, dikatakan bahwa usia 40 tahun adalah usia penting bagi manusia karena di usia ini adalah puncak garis yang akan di tempuh untuk masa depannya atau mundur menjadi umat masa yang tidak maju dalam akhlak, sikap, perbuatan, perilaku bahkan bekal yang akan dibawa kelak dihadapan Illahi Robbi. Dalam riwayat kehidupan Nabi Muhamad SAW di usia beliau ketika jelang dan memasuki 40 tahun di saat itulah Rosulullah SAW cenderung melakukan 'uzlah (intropeksi diri), pengertian lain dari http://islamiwiki.blogspot.co.id, dikatakan Uzlah artinya mengasingkan diri dari dunia ramai, masuk ke dunia kesendirian, dengan tujuan menghidupkan jiwa dan mensucikan pikiran dari pengaruh yang merusak. 
 مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَىْءٌ مِثْلَ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مِيْدَانٌ فِكْرَةٍ ٠ 
“Tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat atas hati sebagaimana uzlah sebab dengan memasuki uzlah alam pemikiran kita akan menjadi lapang. "

Beliau juga melakukan Ikhtilaf (dakwatuna.com: arti Ikhtilaf adalah jalan setiap orang yang berbeda dengan orang lain baik dari sikap dan ucapannya) di Gua Hira, yaitu berdiam diri selama hingga 10 malam, bahkan diriwayatkan hingga mencapai sebulan. Dilakukannya jika pulang hanya untuk mengambil bekal baru dari rumahnya. Dari riwayat dan referensi ustadt ketika umroh sewaktu kunjungan ke gua Hira dikatakan pula bahwa Aisyah RA mendatangi Rosulullah SAW berjalan kaki dalam kondisi hamil turut serta mengantarkan bekal berjalan kaki dari kediaman dan mendaki gunung untuk mengantarkan bekal kepada Rosulullah SAW. Dilakukan Rosulullah SAW hingga menjelang mendapatkan wahyu pertama.

Merujuk kondisi kegelisahan di usia 40 tahun pada diri manusia, sebaik-baiknya adalah selalu mendekatkan diri kepada Allah Aza Wajalla dimana diri mengadu dengan sepenuh jiwa dan raga.

Allah Subhannalahu Wata'alla berfirman: 
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat  baik kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adlah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Photo by: Infoyunik.com

Dikatakan bahwa doa tersebut senada dengan doa yang dilafadzkan oleh Nabi Sulaiman a.s. saat mengetahui para semut berlarian menuju rumah masing-masing agar tidka terinjak rombongan Nabi Sulaiman a.s. 

Kegiatan uzlah dilakukan oleh Nabi ketika saat puncak kesukesan dan ketinggian derajatnya dihadapan manusia. Dari informasi buletin tersebut dikatakan bahwa riwayat mengatakan oleh Ibnul Jauzi menggambarkan bagaimana Nabi begitu sibuk berdagang pada masa sebelum kenabian. Maka dengan uzlah, bisa jadi ada berbagai banyak penyakit yang tidak dapat dibersihkan kecuali bersama kesendirian manusia hanya kepada sang Khalik, atau kata lain dalam bahasa modern lebih banyak dikatakan Self  Healing. Ini memberikan pelajaran bahwa intropeksi diri (muhasabatunnafs) adalah bagian dari kesempurnaan perjalanan spiritual seseorang. 

Sebagai sarana mahabbatullah (mencintai Allah) ada tafakkur (perenungan) kepada tanda-tanda kebesaran Allah yang telah melimpahkan nikmat dan berkah-Nya yang begitu besar kepada setiap umat, khususnya diri di usia jelang 40 tahun. Sehingga cangkupan tersebut terdapat pembersihan diri atau tabarur. Dilihat dari sisi phisikologis, dikatakan bahwa tingkat kematangan phiskologi seseorang berada dipuncaknya pada usia ini. Bahkan juga dikatakan oleh sebagaian ulama bahwa terdapat banyak hal dalam penghayatan agama ini yang tidak dapat dirasakan kenikmatannya, yang tidak menjadi mudah dilaksankan kecuali karena faktor umur di usia 40 tahun. Dikatakan pula bahwa di usia ini uzlah menjadi agenda penting untuk dipertimbangkan dan dilakkan sebagai agenda kehidupan di titik puncak manusia pasca usia #40tahun

Rosulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baiknya manusia ketika berhadapan dengan fitnah adalah orang yang memegang tali kekang kudanya menghadapi musuh Allah".

"Ia menakut-nakuti mereka, dan mereka pun menakut-nakutinya. Atau seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah". ( HR. AL Hakim 4/446).

Menilik dari referensi yang ada bahwa sebaik-baiknya umat ketika menjelang usia 40 tahun adalah mendekatkan diri kepada Allah, karena di saat itulah tanpa di duga-duga sesuatu bisa saja terjadi dalam diri sehubungan dengan kehidupan keseharian dan lingkungan interaksi, maka di saat itulah ujian hidup mengikuti. Dengan sabda Rosulullah dikatakan bahwa manusia yang utama adalah orang yang berjihad jiwa dan raganya di jalan Allah serta orang yang mengasingkan diri di lembah-lembah demi untuk menyembah Rabb-Nya dan menjauhkan diri dari kebobrokan masyarakat (Muttafaqun 'alaih: HR. Al Bukhari 7087, Muslim 143).

Dibalik ini semua agama telah mengajarkan serta mengarahkan kepada umat untuk diperintahkan menjadi/bergerak menjadi perubahan (agen of change) kepada masyarakat umum serta menjadikan hidup berkesinambungan dengan hikmah agama. Dikarenakan manusia diciptakan dengan emosi dalam pertahanan dan pembelaan diri, serta adanya syahwat untuk menyambung generasi manusia maka dibutuhkannya benteng pertahanan dalam muhasabah, sebab insting seperti tabung gas jika berada di kompor yang benar akan menghasilkan panas yang cukup untuk memanaskan dan memasak makanan, tetapi jika berada di posisi atau tempat yang salah dan tanpa kendali, tabung gas bisa meledak dan membahayakan kompor pula. Maka berhati-hatilah kita! cukupkan mendekatkan diri kepada Allah, mengadu kepada-Nya dan mohon pertolongan di kala kesulitan dan kepayahan, dan tak lupa selalu mengingat di iringi syukur di kala suka dan duka, susah dan senang, bahagia dan cita.

Semoga bermanfaat dalam perjuangan hidup usia 40 tahun, Barakallah.




1 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung, tambah berkesan bila bersedia tinggalkan pesan, kritik dan saran buat tulisan saya...