Senin, 01 Desember 2014

Epistemologi Dalam Filsafat




TUGAS KELOMPOK 6
FILSAFAT ISLAM




PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH JAKARTA
PRODI MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Nama Dosen                                    : Dr. Khairan M. Arif, M.Ed.
Nama Kelompok Mahasiswa:
1.        Levina Novi Yanti    (NIM: 552014001)
2.        Khusnul Khoridah (NIM: 5520140045)



PENDAHULUAN
I.         Latar belakang masalah

Didalam mempelajari ilmu pengetahuan erat hubungannya dengan mengetahui awal mulanya pengetahuan didapat, dan seharusnya kita juga mengetahui induk dari pengetahuan itu sendiri. Masalah utama dari epistemologi adalah bagaimana cara memperoleh pengetahuan, Sebenarnya seseorang baru dapat dikatakan berpengetahuan apabila telah sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi artinya pertanyaan epistemologi dapat menggambarkan manusia mencintai pengetahuan. Hal ini menyebabkan eksistensi epistemologi sangat urgen untuk menggambar manusia berpengetahuan yaitu dengan jalan menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang dipertanyakan dalam epistemologi. Makna pengetahuan dalam epistemologi adalah nilai tahu manusia tentang sesuatu sehingga ia dapat membedakan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya.

Secara historis, epistimologi bukanlah permasalahan  pertama yang muncul dalam pikiran manusia. Justru aktivitas filsafat dimulai dalam wilayah metafisika. Apa itu dunia? apa itu jiwa? Dan sebagainya merupakan pertanyaan-pertanyaan pertama yang  mengganggu pikiran manusia yang selanjutnya mereka mencoba menemukan jawabannya. Akan tetapi, mereka mendapati berbagai jawaban tentang hal-hal tersebut beragam dan saling bertentangan. Berangkat dari fakta ini mereka sampai pada dunia luar, tetapi justru mereka arahkan kepada dirinya sendiri tentang apakah intelek manusia mampu menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. Pada titik inilah manusia masuk dalam kawasan epistimologi.[3]

Dalam makalah ini, saya akan mencoba memaparkan bagaimanakah konsep epistimologi dalam perspektif filsafat islam.

II.        Rumusan masalah

Dari uraian diatas dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.    Apa itu Epistemologi?
2.    Apa saja persoalan-persoalan yang terdapat dalam epistemologi, ruang lingkup pembahasan?
3.    Bagaimanakah cara memperoleh ilmu pengetahuan?
4.    Bagaimanakah konsep para filosof tentang epistimologi?
III.      Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.    Untuk pengetahui pengertian Epistemologi
2.    Manfaat dalam pembelajari Epistemologi
3.    Mengetahui objek Epistemologi
4.    Mengetahui turunan-turunan ilmu epistemologi





IV.       PEMBAHASAN
a.   Pengertian Epistemologi
EPISTEMOLOGI disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.

Filsafat merupakan pengetahuan yang berkaitan dengan bentuk-bentuk kehidupan.¹ Hal ini mengindikasikan bahwa filsafat secara umum, dan salah satu cabangnya yaitu epistemologi (theory of knowledge) dalam perkembangannya senantiasa mengalami perubahan dan pergeseran baik di tinjau dari sisi teoritis maupun dari sisi praktis, yang tentunya juga tidak bisa dilepaskan dari peran manusia yang kodratnya sebagai pencari pengetahuan atau sebagai penafsir suatu realitas dalam kehidupannya.  Sejarah telah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15. Setelah itu masa keemasan itu mulai surut bahkan mundur hingga abad ke-21 ini.²

Pemahaman paling sederhana pada ketiga epistemology ini adalah jawaban dari pertanyaan “dengan apakah manusia memperoleh kebenaran?”                                                  
kebenaran itu berasal dari akal atau panca indera. Dengan kedua sarana ini manusia memunculkan dua dikotomi antara apa yang disebut rasional dan irasional. Rasional adalah sebuah kebenaran begitu juga sebaliknya dengan yang dimaksud irasional adalah kesalahan. Selanjutnya orang yang memiliki corak berfikir bayani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu berasal dari teks, rasio tidak memiliki tempat dalam pembacaan mereka terhadap kebenaran. Sedangkan orang yang memiliki corak berfikir irfani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari wahyu, ilham, atau sejenisnya. Pola berfikir yang demikian akan membangun sebuah struktur masyarakat yang memiliki hirarki atas bawah. Berikut pembahasan secara luas mengenai epistemologi dengan disertai pendapat para ahli:
1. Persoalan yang terdapat didalam epistemologi:
1.  Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?
2.  Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?
3. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman)?

2.  Epistemologi menurut para ahli
1.1. William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia.
1.2. Menurut Musa Asy’arie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu.
1.3. P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengendaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
1.4. Menurut D.W Hamlyn epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengendaian- pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
1.5. Menurut Dagobert Runes epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami.

3.    Ruang lingkup epistemologi
MENURUT M.ARIFIN validitas pengetahuan hakekat sumber MENURUT MUDLOR ACHMAD hakikat unsur macam tumpuan batas sasaran pengetahuan. Namun, penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang, terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat, khususnya bidang epistemologi. Hanya saja, jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi, tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan, akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas, yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan.

4.  Objek epistemologis
Menurut Jujun S.Suriasumatri objek epistemologis berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.”Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.

5.  Tujuan epistemologis
Menurut Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. Hal ini menunjukkan, bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendati pun keadaan ini tak bisa dihindari, akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.

6. Landasan epistemologis
Landasan epistemologi metode ilmiah yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan menjadi ilmu, sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diatur berdasarkan metode ilmiah, sehingga timbul sifat-sifat atau ciri-cirinya; sistematis, objektif, logis dan empiris.

7. Dalam epistemologis perbedaan pengetahuan dan ilmu pengetahuan
Pengetahuan adalah pengalaman atau pengetahuan sehari-hari yang masih berserakan
Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu fenomena pengetahuan logis, tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan, melaikan termasuk wilayah filsafat. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integrative. JADI…..HUBUNGAN EPISTEMOLOGI, METODE DAN METODOLOGI METODE METODOLOGI metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut.
Dari epistemologi, dilanjutkan dengan merinci pada metodologi, yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat, maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Filsafat mencakup bahasan epistemologi, epistemologi mencakup bahasan metodologis, dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. Jadi, metode merupakan perwujudan dari metodologi, sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat.


8. Hakikat epistemologis
Epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. Epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. Epistemologi pada hakikatnya merupakan yang objek pembahasannya sangat detail dan pelik.

Epistemologi ini juga pada hakikatnya bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. Epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. Epistemologi pada hakikatnya bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi, maka menimbulkan pemahaman, bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme, atau deduktif dengan induktif), dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya, karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali, sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius.

9. Pengaruh epistemologis
Epistemologi dapat memberikan pengayaan gambaran proses terbentuknya pengetahuan ilmiah. Akhirnya, epistemologi bisa menentukan cara kerja ilmiah yang paling efektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang kebenarannya terandalkan. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep- konsep atau teori-teori yang ada.
SECARA GLOBAL berpengaruh PERADABAN MANUSIA EPISTEMOLOGI dibentuk TEORI PENGETAHUANNYA.
Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Berdasarkan pada manfaat epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradaban tersebut, maka epistemologi bukan hanya mungkin, melainkan mutlak perlu dikuasai.

b.  Objek Epistimologi Islam
Dalam konsep filsafat Islam, kajian ilmu adalah ayat-ayat Tuhan sendiri yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an. Ayat tersebut mengkaji tentang tuhan dan firman-Nya, alam dan manusia. Kajian terhadap kitab suci akan melahirkan dimensi ilmu fisika atau ilmu alam, sedangkan kajiandalam manusia akan menimbulkan ilmu antropologi atau ilmu humaniora.
Dari data ini jelas bahwa dalam agama Islam obyek ilmu tidak hanya dalam ilmu agama, tetapi juga dalam alam dan mereka sendiri. Ini berarti manusi dituntut untuk memperoleh pengetahuan dari ayat-ayat Tuhan, alam, maupun dari diri mereka.[5]

c.   Cara Memperoleh Ilmu Pengetahuan
Ada beberapa jalan memperoleh pengetahuan yaitu empirisme, rasionalisme, dan intusionisme.
Menurut empirisme bahwa pengetahuan diperoleh dengan perantara pancaindera. Pancaindera memperoleh kesan-kesan dari apa yang ada di alam nyata dan kesan-kesan itu berkumpul dalam diri manusia.
Menurut rasionalisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan perantara akal. Akal berhajat pada bantuan pancaindera untuk memperoleh data dari alam nyata, tapi akallah yang menghubungkan data ini satu dengan yang lain, sehingga terdapatlah ilmu pengetahuan yang diperoleh Nabi untuk membawa ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu.[6]
Adapun Intusionisme adalah kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia. Kemampuannya mirip instinct, tetpai berbeda dalam kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini (intuisi) memerlukan suatu usaha. Kemampuan inilah yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap dan unik. Intuisi ini menangkap objek secara langsung tanpa melalui pemikiran. Jadi, indera dan akal hanya mampu menghasilkan pengetahuan yang tidak utuh atau spasial, sedangkan intuisi dapat mengahasilkan pengetahuan yang utuh dan tetap.[7]
Dari teori di atas dapat kami simpulkan bahwa cara memperoleh ilmu pengetahuan yaitu berasal dari wahyu dan akal. Wahyu merupakan pengetahuan yang datang dari Tuhan, dan kebenarannya adalah mutlak dan akal tidak sanggup mengubahnya. Akal merupakan perolehan pengetahuan dengan berfikir.
Kebenaran teori pengetahuan akal manusia sangatlah terbatas, ini dikarenakan terbatasnya usia manusia, dan berkembangnya obyek bahasan, jadi beda dengan kebenaran wahyu. Kebenaran manusia terbatas karena kebenaran yang sesungguhnya berasal dari Tuhan.[8]
d.      Konsep Para Filosof Tentang Epistimologi
a.       Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishak Al-Kindi (Wafat 252 H)
Al-Kindi menyebutkan ada tiga macam pengetahuan manusia, yaitu :[9]
1)      Pengetahuan Indrawi
Pengetahun indrawi terjadi secara langsung ketika seseorang mengamati obyek-obyek material, kemudian dalam proses tanpa tenggang waktu dan tanpa berpindah ke imajinasi. Pengetahuan yang diperoleh lewat jalan ini bersifat tidak tetap, tetapi selalu berubah dan bergerak setiap waktu.
2)      Pengetahuan Rasional
Pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang diperoleh menggunakan jalan akal yang bersifat universal, tidak parsial dan immaterial. Pengetahuan ini menyelidikinya sampai pada hakikatnya dan sampai pada kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang berfikir.
3)      Pengetahuan Isyraqi
Pengetahuan isyraqi merupakan pengetahuan yang datang dan diperoleh langsung dari pancaran Nur Ilahi, puncak pengetahuan dari pengetahuan ini adalah pengetahuan yang diperoleh Nabi untuk membawakan ajaran yang berasal dari wahyu Tuhan. Menurutnya pengetahuan inilah yang mutlak dan benar. Pengetahuan ini hanya dimilki oleh mereka yang berjiwa suci dan dekat dengan Allah.
b.      Abu Nashr Al-Farabi (257-329 H)
Menurut Al-Farabi, manusia memperoleh pengetahuan itu dari daya mengindra, menghayal, dan berfikir. Yang mana ketiga daya ini merujuk pada kedirian manusia, yaitu : jism, nafs, aql.
1)      Mengindra, daya ini memungkinkan manusia untuk menerima rangsangan seperti panas dan dingin. Dengan daya ini manusia dapat mengecap, membau, mendengar suara dan melihat.
2)      Menghayal, memungkinkan manusia untuk memperoleh kesan dari hal-hal yang dirasakan setelah obyek itu lenyap dari jangkauan indra. Daya ini adalah menggabungkan atau memisahkan seluruh kesan-kesan yang ada sehingga menghasilkan potongan-potongan atau kombinasi-kombinasi yang beragam. Hasilnya bisa jadi benar bisa jadi salah.
3)            Berfikir, daya ini memungkinkan manusia memahami berbagai pengertian.[10]
c.       Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H)
Setelah ia melewati masa skeptisitasnya, ia mengkaji secara mendalam persoalan-persoalan epistemologi. Menurutnya, makrifat hakiki adalah suatu pengetahuan yang menyingkap hakikat objek pengetahuan (ma’lum) sedemikian sehingga tidak menyisakan satu bentuk keraguan dan tidak menghadirkan kemungkinan kekeliruan atasnya.
Al-Ghazali pernah menelusuri lorong-lorong keraguan dan sampai pada puncak keraguan. Namun, pada akhirnya ia terhidayah dan menggapai keyakinan berkat pertolongan cahaya Ilahi. Ia terperosok ke lembah skeptisitas lewat alur logika dan keluar darinya dengan jalan pengalaman mistik dan intuisi irfani.
Dengan menghitung kesalahan dan kekeliruan panca indra, ia lantas meragukan hal-hal yang indriawi dan beranggapan bahwa sebagaimana akal bisa mengungkap semua kesalahan panca indra, sangat mungkin akan hadir seorang pemikir lain yang mampu menyingkap kekeliruan akal dan membatalkan pengetahuan yang dipandang gamblang oleh akal (seperti angka sepuluh lebih besar dari tiga). Dan ia berkata bahwa dari mana kita yakin bahwa kita dalam kondisi tidak tidur dan berkhayal. Oleh karena itu, kita bisa meragukan segala sesuatu. Menurutnya, pengalaman mistik dan intuisi irfani (al-kasy wa asy-syuhud al-’irfani). Akan tetapi, ia juga meyakini bahwa jalan logika dan penalaran akal, dengan berpegang teguh pada syarat-syaratnya, sebagai metode memahami hakikat eksternal. Ia menekankan bahwa hasil-hasil yang dicapai oleh pengetahuan itu sangat berpijak kepada penguatan argumentasi-argumentasinya.[11]

IV. KESIMPULAN
1.   Epistimologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan teori ilmu pengetahuan, sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan itu.
2.      Obyek epistimologi atau pengetahuan islam adalah Tuhan, alam dan manusia.
3.      Cara memperoleh pengetahuan ada tiga yaitu :
a.        Empirisme yaitu pengetahuan diperoleh dengan perantara pancaindera.
b.       Rasionalisme yaitu pengetahuan yang diperoleh menggunakan jalan akal yang      bersifat universal.
c.    Intuisionisme yaitu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia yang merupakan hasil evolusi pemahaman tertinggi. Kemampuannya mirip instinct, tetpai berbeda dalam kesadaran dan kebebasannya.






V.        PENUTUP
Demikian makalah Epistemologis dalam Islam ini kami rangkum dan bentuk, semoga memberikan pengetahuan mendalam mengenai Epistemologis dalam Islam disertai pandangan para ahli. Kritik dan saran kami butuhkan untuk perbaikan dan penambahan pengetahuan bagi kita bersama. Semoga bermanfaat.


Daftar Pustaka:
¹ F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm.1
² Syamsul Ma‟arif, Revitalisasi Pendidikan Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hlm 18 
  Seorang filosof yang bercorak burhani akan menjawab bahwa sumber.
Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh filsuf Muslim pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat dan Modern, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004).
Dr. H. Musa Asy’ari, dkk, Filsafat, RSFI, Yogyakarta; 1992.
Drs. H. Fathul Mufid, M.Si, Filsafat Ilmu Islam, STAIN KUDUS, 2008.
Harun Nasution, Filsafat Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Remaja Rosda Karya, bandung, 2007
Ahmad Mustafa, Filsafat Islam, Pustaka Setia, Bandung, 1997.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, tambah berkesan bila bersedia tinggalkan pesan, kritik dan saran buat tulisan saya...