Rabu, 10 Desember 2014

Sepatu Kenagan

Pagi telah tiba, hujan menguyur atap dengan derasnya tetapi tidak menghalangiku dan lainnya untuk tetap berangkat sekolah. Ibu telah siap dengan memberi bekal genggamannya nasi daun pisang tua disimpannya dimeja: "ini untuk bekal kalian kesekolah".

Kami mandi bergantian dengan suara "krek...krek...krek" pompa air bersahutan dengan derasnya hujan. Kakak dan aku selalu sempatkan bercanda disela mandi berduaan, "hahaha...ayo Mel, cepatan!"sahutku menggoda sewaktu kakak memompa sambil menari dengan irama hujan. Kamar mandi kami tak beratap, sehingga dengan mudahnya hujan menyiram bersamaan air pompa.

Beberapa waktu kemudian, sarapan kami santap dari hasil bekerja ala anak kecil dipabrik roti "lauw" tempat dimana para pedagang roti menerima distribusi roti untuk diperdagangkan keliling, disana mereka membungkus dan dimasukkan kegerobak. Bila mereka minta bantuan hanya untuk mengangkat nampan besar roti dan membungkuskannya. Bila tidak kami hanya menunggu pinggiran roti hasil potongan penggelupasan atau roti yang sudah tidak layak jual. Kami akan beri ke ibu untuk dikukus kembali ibu atau dibuat kue roti, dan rasanya masih sama bahkan nikmat. Uang jajan kami pun dapat dari abang pedagang. Aku ingat kala itu berlangsung kisaran tiga tahunan kalaku di SD jelas tiga.

Bekal telah kami masukan ketas bersama air teh rebusan ibu. Bersyukur hujan mulai reda, kami siap berangkat tetapi hari ini beda sepatu kami jinjing dengan bertelanjang kaki agar tidak cepat rusak karena kami dibelikan ibu hanya ketika jelang hari raya Idul Fitri, dan pastik hitam bekas belanjaan ibu melingkari dan menutupi kepala dengan kecangnya, siaplah berlari kecil diantara rintikan hujan. Rintikan hujan menjadi hiburan seperti melodi tiap langkah kami menuju sekolah. "Asik bersih-bersih" seru kami kompak. Sesampainya disamping sekolah telah kulihat kawan-kawan membawa ember dan sapu lidi bersiap mengepel dengan air hujan, membersihkan lantai kelas yang kotor berlumuran tanah merah.

Asiknya kala itu, sekolah bagiku adalah saat bermain berinteraksi dan belajar sejenak. Karena aku tidak dituntut ibu belajar lebih dan sekolah pun apa adanya dengan fasilitas 'alakadarnya'. Ketika itu sekolah masih berjauhan dan tidak membedakan kelas ekonomi, yang ada kami hanya berbaur. Bermain air, bermain tak umpet disela istirahat, main kasti, main ular naga, dan banyak lagi permainan yang buat kami menyatu tanpa persaingan, hanya kesenangan dan kebahagiaan.

Lihat sepatu anakku, betapa bersyukurnya mereka saat ini, sepatu ada disaat butuh bahkan lebih dari satu. Beda, antara sepatu sekolah dengan sepatu jalan-jalan bersama ayah ibu. Angakatan mereka sekarang bertumbuh sangat cepat terpicu pola makan dan asupan gizi yang lebih baik dibandingkan aku dulu. Sepatu mereka akan tidak muat lagi dibeberapa bulan kedepan, makanya kami suka belikan diatas nomor sepatu ukuran masing-masingnya. Tetapi bila tidak juat lagi aku akan siapkan dan kubungkus rapih dan titipkan kepadanya"ayo berikan pada temanmu". Kuingat siapa kiranya teman mereka yang butuh sepatu bekas mereka, kuberharap akan lebih berguna buatnya dibanding hanya kusimpan dirumah tapi tidak dibtuhkan.

Ajaranku membawanya rasa berbagi dan bertanya apa, dan kenapa? Disinilah kujelaskan agar mereka mendapatka n ilmu langsung berahlak baik, sehingga temannya pun senang berteman dengan mereka.

1 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung, tambah berkesan bila bersedia tinggalkan pesan, kritik dan saran buat tulisan saya...