Kamis, 05 Maret 2015

Menapaki perjalanan Baitullah (Part II)



Menapaki perjalanan Baitullah (Part II)



Hijrah dan Umroh, dua perjalanan yang menghiasi  jelang tahun 2014 saya. Pertama hijrah, perjalanan ini membawa kisah tersendiri bagi kami. Tahun 2012-2013 adalah tahun terberat yang meski saya dan suami hadapi, cobaan, penolakan, fitnah dan pertikaian muncul beriringan seiring saya ingin mengwujudkan perjalanan umroh kakak dan Ibu. Hingga saya harus menarik diri dari pertemanan dan media sosial. Hal terkejam pernah saya perbuat terhadap suami dan ternista yang dilakukan seorang anggota keluarga dalam memfitnah status penulisan saya di FB. Menggiring saya semakin memahami arti ketulusan dan makna berkeluarga. Biarlah ini menjadi kisah tersendiri dalam lembaran hidup hingga saya mampu mengukir kata: “ Kakak dapat menemani ibu berangkat umroh” .

Uang yang saya terima dari kakak sebesar Rp. 20 juta (termasuk uang untuk keberangkatan mama yang kami dapati dari urunan antara kakak perempuan) untuk membayar umroh di travel sebelumnya yang lenyap dengan total Rp. 35 juta termasuk membarangkatkan Bapak mertua yang kami telah siapkan, harus kembali kami dipersiapkan untuk membayar  keberangkatan ke travel perjalanan umroh/haji  terpecaya. Perkenalan dengan  Travel bunda Salwa pada peristiwa penipuan perjalanan umroh sebelumnya, mendorong saya meyakinkan suami dan lainnya agar mereka berangkat bersama travel bunda dengan biaya sesuai. Bersyukur Tth Desi  tidak meminta kami membayar ganti kerugian yang menimpanya dan bersedia membayar full untuk berangkat umroh bersama mama, tanggung jawab kami cukup membayar  uang umroh mama dan Bapak. 


Disinilah saya semakin menyadari ketulusan suami untuk mendukung dan membenahi kesalahan menjadi tanggung jawab bersama. Suami bersedia membayarkan perjalanan umroh dari sebagian pinjaman kantor. Berbarengan dengan tujuan memberangkatkan umroh orangtua, kami juga dalam proses penjualan rumah, saya meyakinkan suami jalan terbaik adalah pindah dan menjauh dari persoalan konflik keluarga yang seperti benang kusut.  Allah maha segalanya, keikhlasan suami dan kerukunan kami dalam menjalani proses musibah ini membuah hasil sebelum mereka berangkat umroh rumah kami laku terjual dengan harga yang sesuai, sehingga kami dapat melunasi pembayaran hutang pinjaman kantor sebelum keberangkatan umroh. Tujuan memberangkatkan orangtua kami membawa berkah luarbiasa, bersyukurnya lagi kakak saya tth Desi, dengan ketulusannya bersedia menemani mama berangkat, karena saya yakin saat ini hanya dia lah yang mampu menemani dan mengerti kondisi bathin mama. 

Dok. Pribadi: Suasana jelang siang di area Baitullah


Kesabaran, ikhtiar, ikhlas dan pembenahan diri menjadi proses panjang dalam kurun waktu jelang 2013. Sepulang Orangtua umroh, ada kebahagian tersendiri buat kami, dibenak saya terbesit: “Terima kasih Allah mengijinkan mama datang ke baitullahMu” akhirnya mama bisa kesana dengan pengalaman spiritual tersendiri.  Mama sempat tercengang dengan kepindahan kami di kontrakan. Mama ‘lah yang paling tidak setuju kami pindah, dengan alasan pribadi dan hanya mama yang mengerti alasannya, tidak yang lainnya!


Disinilah semakin saya sadari, Allah membuka pintu kerumahNya... Baitullah membawa kisah tersendiri dalam perjalanannya. Cukuplah kita bersyukur disetiap titian langkah menjadikan hitungan disisiNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, tambah berkesan bila bersedia tinggalkan pesan, kritik dan saran buat tulisan saya...