Sabtu, 22 Oktober 2016

Perjalanan memutuskan Pesantren Husnul Khotimah

Assalamualaikum,  selamat pagi blogger..

Cukup lama blog nggak di sapa, banyak cerita lewat photo sayang dilupakan apalagi dibuang. Satu diantaranya kesan dan kenangan luar biasa ketika di tanggal 18 December 2016 momen berharga jadi titik awal langkah Lanika anak saya memutuskan untuk ikut tes ujian masuk Ponpes Husnul Khotimah (HK).

Awalnya Lanika gelisah dan nggak pernah mau di pesantren.  Dibenaknya terpikir bahwa pesantren berarti disisihkan dari keluarga,  penyebabnya juga bermula dari kami juga sebagai orangtua yang kurang mampu komunikasikan tentang pesantren dan tujuan pesantren. Pernah suatu kali kami sebagai orangtua terucap ke dia jika nggak mau di atur akan di pesantren (sadar berbahasa cukup sadis), yang ada justru Lani semakin ngambek dan gak mau. Memang benar adanya,  semakin diri menghadapi ada tanpa kesabaran ketika meranjak pra-remaja justru bikin dia semakin emosi.  Seperti kata orang bijak "Anak akan bercermin dari orangtua,  atau sebaliknya anak cerminan orangtua".

Ketika semakin kami sadari kekurangan kami dalam mendidik anak-anak dalam hal ini khususnya Lanika ketika dia sangat kritis dan kecerdasannya bikin kami sadar ilmu agama dan cara didik yang masih terbatas, di atas itulah kami merasakan butuh pendamping lain untuk menjaga dan memdidiknya dengan cara lebih baik yang sesuai dengan Akidah dan akhlak agama Islam. Serta ketika saya semakin menyadari Lanika butuh lingkungan yang lebih baik dalam Pendidikan dan hubungan sosial,  dengan saya melihat kilas balik masa pertumbuhannya dengan lingkungan pertemanan di SD dengan jumlah tenant Kelas yang sama hanya kisaran 19 teman hingga 5 tahun dan dipertemukan dengan teman kelas pararel ketika sekolah putuskan disatukan di kelas 6 hingga jumlah kawan kelas menjadi 34 Siswa.

Setelah saya sharing ke kawan guru kondisi Phisikologis Lani masih sempat kepikiran cercaan dan julukan dia dapat hingga kini sehubungan dengan kondisi phisiknya menjadi julukan dari kawan kelas terutama kawan laki-laki, sehingga membuat dia suka tanya apa benar yang dibilang kawannya bahwa dia 'jelek'.  Uuuh sebal juga sebenarnya kalau dia sudah cerita abis dikatain gino,  dower,  item,  dll. (jadi curcol 😄) Akhirnya teman guru-Ibu Iffah anjurkan Lani untuk diberikan lingkungan Pendidikan lanjutan yang lebih baik untuk phsikologisnya dan kalau bisa pesantren untuk Pendidikan agamanya yang lebih baik, dan bu Iffah referensikan ke HK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, tambah berkesan bila bersedia tinggalkan pesan, kritik dan saran buat tulisan saya...