Like Us Facebook

Sabtu, 02 Juli 2016

Mencari Cinta Hakiki di Ramadhan Nan Suci


Sahabat Ummi, bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan menjanjikan kepada umat manusia atas segala perbuatan baik dibalas dengan pahala berlipat ganda. Kebaikan-kabaikan dalam perbuatan hingga tidurnya pun adalah ibadah membawa kita agar memaknai ramadhan dengan penuh hikmat dalam segala sikap dan tingkah laku. Ketika dimaknai tidurnya orang berpuasa merupakan ibadah bisa jadi ketika tidur lebih baik dibandingkan melakukan perbuatan yang mengurangi bahkan merusak ibadahnya, seperti bergunjing atau menyakiti orang lain.
 
Didalam setiap tindakan setiap muslim tentunya memiliki makna tersendiri, karena sebagai umat muslim pembiasaan dan perbuatan segalanya diawali dengan niat karena Allah ta’alla-tanpa kecuali. Berikut kiat-kiat menjadikan bulan ramadhan dipenuhi keberkahan:
 
11. Pahami apa itu ramadhan dan apa saja ibadah yang menjadikan keberkahan. Allah menurunkan Al Quran di malam lailatur qad’r, menjadikan ramadhan semakin dipenuhi keberkahan dengan beribadah membaca Al Quran di tambah memaknai makna-makna yang tertulis pada terjemahannya. Bisa dengan mengikuti kegiatan ifhtor jamaah yang diiringi ulasan-ulasan tentang pembahasan isi dan makna yang ada didalam Al quran.

22. Membuat dan menyampaikan kepada Allah segala permohonan/permintaan dar terkecil hingga terbesar. Menyampaikan permintaan kepada Allah dalam bentuk proposal permintaan, dengan menulis segala permintaan kebaikan. Sangat dianjurkan berdoa diwaktu-waktu mustajab yaitu ketika:
-      Waktu ketika berbuka puasa disampaikan segala doa kepada Allah subhannahu wata’alla.
-      Ketika azhan dan Iqomah
-      Ketika sahur
33. Memaksimalkan hidup selama ramadhan dengan dilalukan doa setiap waktu, diantaranya dengan:
-   Berpuasa sebaik mungkin, dengan pikiran memikirkan akhirat dan menjalani dengan penuh ibadah
-   Lalukan semua sholat wajib dan sunnah (sholat witir, tahajud, dhuha, dan lainnya).
-  Banyak membaca al quran, dengan mentargetkan bacaan al quran menjadikan semakin semangat berlomba untuk membaca lebih baik lagi.
-   Banyak berdoa. Berdoa adalah cara manusia berkomunukasi kepada Allah, dengan tidak berputus asa dan khusyuk berharap ridhonya menjadikan setiap ucapan doa membawa semangat positif.
-   Banyak berzhikir. Setiap waktu-setiap saat berzhikir dalam hati membawa ketenangan dalam setiap langkah dan perbuatan.
-    Banyak berinfak. Dari berinfak materi, makanan hingga perbuatan memiliki kebaikan bagi setiap umat manusia, terlebih umat muslim itu sendiri. Allah memberikan nikmat rahman dan rahim bagi seluruh makhluknya, dengan berinfak dan bersedekah Allah janjikan kebaikan bagi jiwa rohani maupun jasmani.
-    Perbanyak silaturahmi. Menjaga tali berpersaudaraan dengan sesama memberikan berkah berkelanjutan, menjadikan hidup penuh makna. Dengan hanya berharap ridho Allah ta’alla akan lebih mendekatkan pada nikmat syukur atas segalah berkah dan ridhoNya.
 
Dokpri: memandang keindahan rahmat Allah di negara Sakura



Allah berfirman:  “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujuraat : 10).

Barangsiapa yang suka dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya, maka sambunglah silaturahim (HR. Bukhari).

Memaknai Ibadah Berpuasa dalam Mencapai Target Ramadhan


Sahabat Ummi yang dirahmati Allah, umumnya ibadah akan dilakukan sungguh-sungguh oleh seseorang bila memiliki target. Dalam urusan target pastinya setiap diri kita mengharapkan target kesukseskan. Dalam prosesnya ketika dimulai dengan nilai kesuksesan sudah mulai pula membentuk benih-benih sukses. 

Dimulai dengan niat serta berbekal target menjadikan ibadah yang dijalani akan terasa lebih ringan. Allah subhannahu wa ta'ala memberikan keberkahan di setiap target yang diberikan ketika manusia menjalankannya. Seperti pada pengertian Ijtihad (Arab: iاجتهاد), adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh  yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang. Dengan begitu perbekalan akal sehat menjadi bagian dari kunci utama dalam berilmu, dengan menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang dalam mencapai ibadah yang dicita-citakan akan menjadi lebih berkah bersama kekuatan usaha.
 

Seorang muslim menjalankan ibadah dengan dilandasi Al Quran, hadist dan pandangan para ulama. Berpegang kepada tiga landasan tersebut, menjadi bekal kekuatan umat Islam dalam beribadah.  
Dibulan Ramadhan yang dipenuhi keberkahan ini, umat Islam bukan hanya menjalankan Shaum (puasa) yang memiliki makna lebih sempit, tetapi Shiyam, adanya memiliki makna lebih lebih luas. Pengertian lain  “shaum” dengan “shiyam” adalah perihal umum dan khusus. 

Shaum” lebih umum daripada “shiyam”. Jika “shiyam” hanya digunakan untuk arti berpuasa secara fikih yaitu “menahan diri dari makan, minum, seks”. 

“Shaum” digunakan untuk semua yang dimaksud dalam arti “menahan diri”. Puasa ramadhan atau puasa Senin-Kamis bisa disebut “shiyam”, juga bisa disebut “shaum”.  Pengertian lain “shiyam” meninggalkan semua yang tidak berhubungan dengan keislaman dalam menjalankan puasa dan shiyam mencangkup shaum. Dalam Al Quran sebutan Shiyam mencapai tujuh kali dan Shaum tersebut sekali. Berikut sebutan Shiyam dikutip satu diantaranya serta Shaum: 

Dalam surah Al-Baqarah ayat ke-183: "ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikum al-shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la’allakum tattaqun".
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa".
 
Dalam surah Maryam ayat ke-26: "fakuli wa-syrabi wa qarri ‘ainan fa imma tarayinna min al-basyar ahadan faquli inni nadzartu li al-rahman shauma, fa lan ukallima al-yauma insiyya". 
 
Artinya: "Makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seseorang, katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar shaum untuk Tuhan Yang Maha Pemurah; aku tidak akan berbicara dengan seorang pun pada hari ini. 

Dokpri: beraneka macam kurma di Pameran Budaya Arab Saudi


Semoga target-target beribadah di penghujung Ramadhan menggapai ridho Allah azza wa jalla dan diberikan keberkahan nikmat target pencapaian dengan suka cita. Aamiin.


Begini Tips Jitu Mengarahkan Anak Agar Mencintai Masjid


Sahabat ummi, itikaf menjadi bagian terpenting ketika bulan ramadhan, tetapi tahukah kita apa yang menjadikan itikaf begitu dinanti dan dicintai ketika dipenghujung Ramadhan? Dari riwayat yang disampaikan perihal perilaku dan sunnah Rosulullah SAW di penghujung bulan Ramadhan menjadikan i’itikaf menjadi kewajiban yang dijalani bagi sebagian umat Islam yang tidak ingin ditinggalkan seharipun pada sepuluh hari terakhir. 

Merujuk dari pengertian Al-Hanafiyah (ulama Hanafi) berpendapat Itikaf berdiam diri di masjid yang biasa digunakan untuk shalat berjama’ah. Ketika digabungkan pengertian dari ulama Syafi’i menjadi memperkaya khasanah beritikaf, yaitu berdiam diri dimasjid dengan melaksanakan kegiatan dan amalan-amalan tertentu dengan niat kepada Allah azza wa jalla. Berikut pengertian itikaf di syiar dan syariatkan dari Al Quran dan Al Hadist, yaitu: 

“...Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”. (QS: Al Baqarah (2): 187).
 
 
Hadists riwayat Aisyah ra: “Bahwa Nabi Shallallahu`alaihi Wa Sallam melakukan i’tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i’itikaf setelah beliau wafat.” (HR. Muslim)
Dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam membawa kita kepada generasi muslim yang dipenuhi rahmat berupa indahnya beritikaf dan menjalin silaturahim di dalam masjid. Sebaik-baiknya beritikaf tidak hanya untuk diri sendiri, dengan mensyiarkan kepada kerabat, tetangga dan saudara agar itikaf kita bermakna dan mencintai rumah Allah. 

Dengan beritikaf, kita membiasakan diri untuk generasi penerus Islam, yaitu yang terdekat, anak-anak kita. Miris, ketika sebagaimana yang banyak terjadi dan terbukti, dikala sepuluh malam terakhir sebagaian umat muslim disibukkan dengan persiapan lebaran, mudik, bahkan ‘beritikaf’ di mall. Sebaik-baiknya kita adalah yang menjadi contoh dan syiar kebaikan dengan mementingkan kualitas ibadah dipenghujung Ramadhan. 

Masih ada waktu untuk memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadhan ini. Alangkah baik dan bijaknya kita mengajak anggota keluarga yang cukup usia dan tidak mengganggu kekhusyukan para jamaah lainnya untuk turut serta menikmati i’itikaf. Dengan diawali dengan niat beritikaf, meskipun anak-anak belum baligh belum disunahkan untuk melaksanakan itikaf, tetapi alangkah bijaknya jika sejak dini dipupuk rasa cinta terhadap sunah Rasulullah SAW. Berikut cara mengikutsertakan diri mereka: 

1. Informasikan sejak dini pentingnya dan makna beritikaf, serta kenyamanan beritikaf.
2. Bekali apa yang meski dilakukan dan dilaksanakan ketika beritikaf.
3. Cukupkan istirahat dan asupan makanan sebelum beritikaf, agar fokus beritikaf tetap terlaksana.
4. Bawakan bacaan selain Al Quran, diantaranya buku-buku agama
5. Datang di waktu yang tepat agar tidak memiliki rasa jenuh berlebih, agar kualitas khusyu tetap 
    terjaga.
6. Membekali bacaan doa dan berdzhikir
7. Membimbing mengisi waktu beritikaf untuk shalat sunah 

Photo didepan karya Lukisan Ka'bah
Dengan pembiasaan perbekalan tarawih bersama dan ditambah keikutsertaan itikaf, InsyaAllah anak akan semakin cinta Islam.