Senin, 27 April 2015

Matahariku



Sedari dulu telah kusadari kau bukanlah kestaria
Seperti dalam cerita atau kisah romantisme
Kau hanya bagian dari kisah kesedihanku
Menghampiri, menghangatkan
Membawa lilin pada relung hatiku

Tanpa janji syahdu, meyakini bersama cahaya lembayu
Hadir mu  kala relungku lirih
Berkata: “aku bersedia menemanimu dalam lirih lukamu!”

Aach! Jalan ini terlalu panjang
Kubawa berat beban dipundakku
Ketika kutapaki jalan ini, begitu lelah
Berat langkah dibawah terik matahari menengelamkan

Tanpa lelah, kau usapkan deraian kesedihan
Menompang kala semakin lirih bebanku
Kau gapai:”sadarlah, buanglah masa lalumu!”
Merangkul dengan kehangatan mentari senja
Menjanjikan, mengantar jutaan bintang harapan bersama mimpiku

“Sadarlah,!” hidup untuk saat ini
Tinggalkan, hilangkan kesedihan dan lukamu
Jangan biarkan selalu menganga
Bersahabatlah dengan dirimu
Meski dia bukan kstaria, tetapi kau adalah matahariku
Menghapus berjuta kesedihan seperti bintang kala gelap gulita
Dengan cahayamu, Matahariku!

Bekasi, 26 April 2015
levin lme

#Diikutsertakan dalam lomba penulisan puisi Motivasi 

Sabtu, 25 April 2015

Pelatihan: Menulis, yuk! buat anak bersama Bunda Wylvera W.

Dok. pri: Photo bersama murid kelas 3-6 pilihan SDIT Gembira

Alhamdulillah Sabtu ceria dilewati dengan semangat luar biasa bersama murid-murid pilihan kelas 3 sampai 6 SDIT GEMBIRA. Pelatihan menulis perdana yang diselenggarakan pertama kali dan disetujui serta mendapatkan dukungan luar biasa dari guru-guru dan kepala sekolah baru, Bapak Dai'. Bahagianya, termasuk Lanika anak sulung saya yang saat ini dikelas 4 SD bersekolah disana.  

Rutinitas sabtu pagi kali ini saya ijin satu sesi mata kuliah, jadi sempatkan untuk antar si bungsu bersekolah. Setelah itu baru saya berusaha tepati janji buat ngak terlambat jemput pembicara dilokasi janjian ketemu, hampir ajah telat! Subhanallah pembicara ontime diantar suaminya, karena kondisinya sedang sakit, ngak memungkinkan untuk mengendarai kendaraan sendiri. 

Dokpri: Suasana pelatihan membentuk letter U
Kata Lani sehari sebelumnya teman-teman disekolahnya senang banget, semangat dan girohnya terbawa sampai Lani ditanyain terus tentang acara penulisan ini. Terlebih Lani, bangganya terlihat pas tahu mama adalah kontributor dari orang tua murid dalam acara pelatihan ini. Apalagi saya, senang banget lihat mereka senang menyambut acara ini. Ditambah lagi pengisi materi adalah penulis beken, sobat penulis....hihi.... siapa lagi kalau bukan mbak Wiwik alias Bunda Wylvera, atas kebaikannya, meskipun kondisi kurang fit tetap tersenyum cuantiq berbagi inspirasi di sabtu pagi tadi.
"mama datang, pagi kan!" Maunya Lani berangkat bareng mamanya sambil gandeng tangan nunjukin temannya "ini mamaku"... hehe Queen for my kiddos....
Dok.pri: pemenang 4 cerpen terbaik mendapatkan buku karya bunda dan Yasmin
Temanya sederhana "Menulis, yuk!" Kata mbak Wiwik, dibuat sederhana buat ajakan anak dengan bahasa anak, mereka akan termotivasi jadi mau tahu..."apa sih asiknya menulis? Gimana caranya supaya bisa menulis". Pertama kali kunci menulis adalah 'Ide cerita'. Ide cerita bisa datang dari mana saja. Dari ruangan pelatihan tadi tempat anak menulis, ketika mereka memandang sekitar, sampai kipas angin yang kotor ajah bisa jadi ide cerita (hihi...kebenaran tadi persis mba Wik lihat kipas angin baling-baling diatap yang kotor) atau bisa jadi tempat minum mereka. Misalnya: air minum bisa membantu kawannya yang kehausan karena tidak membawa minum atau bekal. 

Lanjut ke materi utama, terlihat semangatnya mereka memandang mba Wiwik seperti peri Cindrelella yang baik hati...hehe.... "apakah yang menjadikan cerpen lebih bernyawa?" tanya mba Wik.... tentu ajah tokoh, tokoh utama dan tokoh pembantu (tokoh tambahan). Anak-anak diminta melihat 7 tokoh pada slide show materi, lalu diminta menuliskan apa karakter pada masing-masing photo. Tentu mereka diminta berpikir, apa yang dilihatnya, dari fostur wajah dan tubuhnya. Terlihat anak-anak menuliskannya dengan ide masing-masing yang ada dikepalanya, tentu saja berbeda-beda. Saya pun jadi penasaran hasil tulisan karakter mereka, asik juga lihat keseriusan mereka, ada yang masig bingung, ada yang ragu tapi semuanya mampu menyelesikan tantangan pertama, tebak karakter!
Asiknya jadi peserta pilihan, sudah gratis, didatangi pembicara dan penulis berpengalaman, sudah gitu dapat snack pula....hehe...mereka yang datang kepagian yang belum sarapan pol! jadi ngak ngantuk alias lemes lagi pas makan cemilannya...lanjut semangat!

Materi disampaikan ringan dan santai, ada gelak tawa anak-anak ketika mbak Wiwik berinteraksi dengan murid yang jail, tapi kocak... mereka jadi semakin bersahabat dengan kondisi pelatihan, tidak tegang dan jenuh. Sesi pertanyaan juga tidak segan dan malu mereka bertanya buat meleburkan kebingungannya.
Dok.pri: narasumber berinteraksi dengan murid
Dok.pri: Saya dan Mbak Wiwik
Ini dia disesi akhir, yang ditunggu-tunggu, bisa ngak ya mereka membuat cerpen? Cerpen dari tokoh pilihannya cerpen sederhana dari 10 kata kunci yang diberikan mba Wiwik, dengan menulis minimum 2 paragraf dari 9 kata kunci pilihannya. Menjadi masalah umumnya, sebagai penulis pemula selalu terkunci dengan susunan kata kunci yang diurutkan. Gimana caranya supaya cerita mengalir? Perhatikan saja ide cerita dan penokohannya, juga utama lainnya alur cerita yang mengalir alami, tidak kaku, tidak perlu pakai bahasa gaul, alay apalagi bahasa singkatan yang nga jelas. Oiya! Jangan lupa jadilah editing yang baik, dari perhatian pada tulisan EYD, Tipo, sampai pada peletakan titik, koma, tanda petik dialog dan lainnya.

Selesai juga mereka menjalani tantangan mbak Wiwik, menulis cerpen. 60 tulisan terbaik dipilih 4 yang paling terbaik untuk mendapat buku karya mbak Wiwik dan satu karya putrinya (Yasmin), wuiih keren ya! Putra dan putrinya juga gemar menulis dan menghasilkan karya, karena apa? Kata mbak Wiwik karena ada kemauan dan ada usaha, usaha buat mendisplinkan diri, menulis minimal 1 lembar perhari....bisa lebih....kalau mbak Wiwik sudah pasti bukan satu lembar tapi 1 cerpen bisa jadi lebih! Kalo saya? Heeem jangan ditanya....masih sibuk! 'Ngeleees hehehe' . Pas di umumin otomatis semuanya deg deg an.... termasuk Lanika, anak saya. Pilihan mbak Wiwik tanpa disadari jatuh kepada masing-masing kelas, kecuali kelas 4A, kelas Lanika dan kawan-kawan. Justru ini jadi pemicu mereka supaya lebih baik lagi dalam menulis dan membaca.... agar menghasilkam tulisan terbaiknya. Berlatihlah anak-anak!
Dok.Pri: Penyerahan sertifikat kepada Nara sumber dan Kontributor oleh Kepsek.
Puji syukur tak terhingga atas nikmat Allah dihari ini, misi saya untuk sekolah SDIT Gembira dan berkat dukungan moral serta ilmu dari mbak Wiwik dapat terselenggara serta di restui pihak sekolah dengan berjalan sangat baik, meski ada beberapa kekurangan, tetapi sudah tertutupi dengan nikmat berlebih melihat kebahagian pihak sekolah tanpa kecuali senyum anak-anak.

Terima kasih bunda Wylvera atas waktu, semangat dan usahanya dalam kondisi kurang fit tetap berusaha menyampaikan materi dan berbagi ilmunya dengan sebaik mungkin. Sampai ketemu dilain kesempatan. Salam sayang dari kami, orang tua murid dan murid SDIT Gembira.
Semoga sebagian informasi dari materi tadi bermanfaat buat teman-teman pembaca... Aamiin.
dokpri: Photo bersama Kepala sekolah dan sebagian Guru SDIT Gembira

Senin, 06 April 2015

Gadis Cilik di Jendela

PJudul Buku: Gadis Cilik di Jendela
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedelapan belas : Februari 2015
272 him;20cm

Buku mengenang Sosaku Kobayashi

Membaca buku ini membawa saya kepada ingatan masa kecil, sewaktu riangnya bermain. Apapun dilakukan buat kesenangan bathin. Tidak kenal waktu, apapun dilakukan karena dorongan hati. Energi terlebih menjadi modal utama tanpa kekhawatiran berlebihan. Bermain,  melupakan pesan moral orangtua justru menjadi hal  baru buat mereka ketika berinterkasi dengan permainan yang patut dicoba menerjang  tantangan.

Seperti halnya saya dan kawan-kawan kala itu, bermain tanah, memanjat pohon tempat rahasia, buat goa dalam tanah sama semak-semak.. sampai main dan loncat dikali. Itu semua kami lakukan dengan kebahagian tersendiri, sampai kapan pun ngak bakal tergantikan dan terlupakan. Sayangnya beriiring waktu, kebahagian ini ngak bisa dirasakan anak-anak kami. Karena kondisindan waktu yang berbeda, juga situasi lingkungan yang tidak lagi mendukung anak berinterkasi seperti ini.

Totto Chan gadis cilik yang berasal dari Jepang adalah cerminan anak kecil diseluruh dunia, mempunyai dunia bermain tidak terbatas ruang dan waktu. Semua anak berasal dari dunia yang sama, yaitu bermain. Dari manapun asal negaranya. Mereka ingin mencoba, dari rasa penasaran dan kecerdasannya.  Disini semakin dijelaskan tanpa adanya penekanan, tidak ada anak yang nakal. Mereka adalah benih kecerdasan, keaktifannya bagi pendidik/orangtua mendorong untuk berusaha memahami apa yang di inginkannya dan apa yang menjadi penasarannya untuk tahu sesuatu menjadi 'tahap belajar' menjadi tahu dan paham,

Seperti halnya mama, mama Totto Chan, merupakan contoh seorang ibu luar biasa yang berusaha memahami perkembangan dan cara  belajar Totto Chan dari segi pribadi anak. Tanpa hujatan malu ataupun kecewa karena sikap dan prilaku yang ditunjukan Totto Chan berbeda dengan harapan sekolah Totto Chan sebelumnya. Sekolah dan guru yang kecewa atas kelakukan Totto Chan memiliki cara 'belajar' tersendiri',  bahkan dibilang baku seperti pada umumnya sekolah-sekolah, khususnya di Indonesia, dengan sistem pembelajaran klasik. Tetapi sulit diterima untuk anak sistem belajar istimewa seperti Totto Chan dan teman-teman yang pada akhirnya berkat dukungan orangtua menemukan sekolah istimewa buatnya, "Gerbong Kereta". Sekolah bergerak, menyajikan keindahan buat anak-anak istimewa, Totto Chan, satu diantaranya...langsung jatuh cinta dengan sekolah syarat petualangan dan kasih sayang.

Gimana engak dibuat pusing, jika guru mengukur kecerdasan anak dengan aturan kaku dan anak diminta paham secara linear. Tapi tidak buat Totto Chan yang merasa kejenuhan disetiap pembelajaran. Justru yang dilakukan berusaha menghibur diri, bayangkan gadis 7 tahun, sejajar usiah SD kelas 1 sudah memiliki keberanian melakukan kehebohan dikelas dari memmanggil pengamen jalanan untuk menghibur bersama, sampai keteganga disetiap jam pelajaran yang membuat gurunya tidak habis pikir atas kelakuannya. Sudah pasti, kasat mata guru dan sekolah manapun yang mempunyai aturan baku bakal mengatakan anak ini 'nakal!'  dan ngak sepantasnya sama teman sekelas lain yang damai.

Mama Totto Chan, tanpa membuat simpulan.. cukup berusaha memahami, "disinilah Totto Chan semestinya! Sekolah Gerbong Kereta". Bersama Kepala Sekolah dan guru-guru serta teman-teman yang istimewa... belajar bermain bersama. Hadirnya kepala sekolah cerdas yang memahami dunia anak, berlama-lama menjadi kawan buat mereka. Mengajarkan, membimbing juga memahami petualangan anak, sama halnya Totto Chan, menganggap dan bersyukur memiliki kepala sekolah luar biasa kebaikannya buat anak-anak, apapun kondisinya.

Gimana ngak istimewa! Saya sangat takjub ketika penulis menceritakan ide dan sikap Kepala Sekolah yang brilian! Menjadikan sekolah seperti taman bermain... bermain, belajar dari alam. "Hayo...siapa yang membawa makanan dari laut dan makanan dari pegunungan?" Dengan interaksinya membawa anak ke dunianya  yang sesungguhnya belajar dan interaksi... anak di ajak bersenang-senang dengan interaktifnya dari mengistilahkan makan, permainan, keaktifannya, lomba-lomba interkasi tanpa mengenal perbedaan justru menjadikan anak kekurangan/cacat benar-benar jadi istimewa biaa melakukan perlombaan seperti anak normal umumnya bahkan justru memenangkan tiap momennya,... gila luar biasa, saya takjub dengan Kepala Sekolah Tomoe, bahkan hadiah-hadiah saja meski terlihat sederhana, justru membawa pesan kasih sayang dan kesehatan uang pada akhirnya anak SD belajar berlogika mengukur sesuatu dengan kebaikan bukan hanya materi dan kebesaran nilai yang justru menjadikan lebih ber ego.

Buku recomended buat pendidik dan orangtua yang peduli pendidikan bebas dan bermakna, menjadikan saya pribadi semakin terbuka dalam menerima pemikiran, celoteh, kelakuan serta cara anak belajar, meski anak masih terikat dengannaturan sekolah, setidaknya saya berusaha melonggarkannya dengan bersikap dan menerima keistimewaan dari masing-masing anak... apapun kelakuaan tugas pendidik adalah mengarahkan dan mendampingi. Seperti halnya Mama Totto Chan dan Kepala Sekolah.

Belajar Bahasa Inggris Dari Video Edukasi

"Mom...look at, this my picture....house kita" haha... sambil senyum geli sendiri.

Makin berani ajah Emily berekspresi komunikasi bahasa Inggris, bukan cuma dirumah dimana pun dia sempatkan bicara pake bahasa Inggris. Biar belepotan, tapi sudah cukup banyak kosa katanya. Apalagi intonasinya pas banget.

Emily senang banget nonton kartun berbahasa inggris, malah kadang sampai terbawa emosinya, tertawa geli sampai menangis. kok bisa? karena kebiasaan, jadinya dia suka tanya sama saya apa sih artinya ini mah, itu mah? terus dimana pun kesempatannya dia suka tanya lagi, "mah artinya door apa?, bird apa? dan lanjut apa saja yang dia pengen tahu. hobinya nonton tv kabel.. sudah pasti channel anak-anak.

85% hak dia buat kuasain channel anak. Dua kakak lebih banyak manutnya.
Sewaktu budget masih nga menentu dan belum pasang tv kabel Indovision, anak-anak terbiasa dengan tontonan tv lokal, tapi dijam tertentu. Saya atur jadwalnya, khusus buat tontonan anak-anak paling bersahabat disiang hari dengan #SiBolang sama #laptopsiunyil, sudah pasti ada ajah jedanya...iklan apa saja jadi tontonan mereka yang ditayankan stasiun tv. Dari sinilah yang kadang bikin greget, dari iklan saja kadang adanya didikan ngak baik, anak jadi terpengaruh bahasa dan pesan dari tontonan. Inilah yang bikin saya merasa sedih! Tontonan anak di tv nasional membuat anak cepat dewasa belum waktunya, tahu ngak meski tahu! dan kurangnya pesan moral, justru banyak di jejeli sinetron di jam anak. beberapa bulan lalu dua kakaknya pernah demam nonton GGS sama apa gitu, saya lupa, karena pengaruh teman-teman main dan sekolahnya. Tapi pasa saya temani beberapa kali tontonan tersebut ternyata ngak baik buat mereka, justru ngajarin ngak benar. Akhirnya sempat kesal-kesalan sama saya sampai nangis segala beberapa hari karena saya ngak kasih. Setelahnya saya alihkan dengan kegiatan lainnya, alhasil mereka lupa dengan sendirinya.

Benar adanya pesan edukasi yang diterapkan #AyahEdi untuk tertular kepada keluarga lainnya khususnya pencinta keluarga Indonesia. Agar kurangi menonton tv, bahkan tidak perlu adanya tayangan televisi dirumah. Nah, ini masih buat saya berat. Karena saya masih memberikan anak peluang untuk menonton tv dijam tertentu, sudah pasti tontonan yang baik untuk mereka. Kalau kami pribadi sebagai orangtua berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menonton tv yang akan menular kebiasaan buruk buat mereka, apalagi ketika kita menonton tayangan dewasa ternyata anak ada disebelah kita. Bisa menjadi bencana ilmu bagi anak. Makanya setelah mendengar informasi dan pengetahuan dari Ayah Edi, kami sebagai orangtua justru lebih mengalah untuk tidak menonton apa-apa dikala anak ada atau sekedar menenami tontonan mereka dikala jam tontonannya.

Bagi saya jendela pengetahuan dan ilmu bukan hanya dari buku, tapi... tayangan edukasi, termasuk dari tv kabel mempunyai peranan yang sama. 

Anak menjadi tahu dunia dengan tayangan tv edukasi, bukan hanya tentang Indonesia. Mereka bisa lihat kehidupan anak dari belahan dunia lain. Meski dalam bentuk kartun banyak pesan moral yang disampaikan. Apalagi ditambah komunikasi bahasa selain Indonesia, jelasnya bahasa Inggris. Bikin mereka pintar berekpresif dan intonasinyang baik ketika mengucapkan kosa kata. Terlebih saya rasain pada Emily.

Emily tanpa segan dan canggung komunikasikan bahasa Inggrisnya dimanapun, dan kalimatnya hampir mendekati sempurna dengan lebih dari tiga suku kata. Inilah yang buat saya senang, dia bukan hanya nonton. Tapi bahasanya diserap dan tanpa segan dipraktekin lagi. Senangnya lagi mempengaruhi intonasinya.

Inilah yang buat saya tetap menjadikan tv bahan ajar anak-anak, terutama buat mereka di bawah usia Balita, termasuk Emily dari usia 4 tahun lebih sudah membiasakan berusaha bicara  bahasa Inggris meski masih 'balelol' hihi.... tapi saat ini sudah sangat lumayan. Senangnya lagi, mereka ambil kebaikan dari pengajaran, buat saling menghargai dan santun.
dok.pri: Emily sewaktu menunjukan gambarnya sambil menggunakan Bahasa Inggris

Sabtu, 04 April 2015

Mendekatkan Anak Akhlak Agama

Tadi malam berkesan banget, ketika saya lantunkan ayat suci Al Quran. Seperti biasa, umum juga buat lainnya waktu sholat dan ngaji adakalanya anak menggoda dengan pertanyaan yang minta persetujuan or jawaban kita.

"Mah, aku boleh ini ngak? Itu nga?...iya kan mah? Mah ambilin ini..itu?".... wuiih secara lagi sholat dibrendel pertanyaan... berasa sesuatu. Ngak dijawab dengan anggukan terus dibrendel, kadang akhirnya saya buat kode dengan senyuman, kadang juga anggukan.. kalau nga dijawab dia masih nangkring disarjadah meski udah dikasih pengertian sebelum-sebelumnya. Ya...namanya juga anak-anak.

Sekarang sudah mendingan Emily sudah masuk usia 5 tahun jadi buat lagi naikin badan saya seperti dulu, ketika usia mereka batita kalo ngak berasa naik kuda-kudaan atau ayunan, pastinya kalo sudah sujud atau mulai ruku waktunya menggoda dimulai.

Buat si abang yang usia 7 tahun paling cuma bilang, "ayo mah doanya jangan lama, baca qurannya sama aku ajah". Atau duduk dipangkuan pengen ikutan dengar baca doa.

Buat kesekian kalinya mereka menggoda, buat malam ini yang paling ngak mau saya lewatkan momennya. Ketika saya membaca Al Quran, Lani sempat berapa kali terbesit.. "mah nanti aku kasih tahu ya tartil bacaan yang benarnya".. hihi... emang benar adanya, ngaji/bacaan Al Quran saya dibanding anak yang pertama jauh lebih baik dia, pemahaman tadjwid Lani bisa dibilang sangat baik. Alhamdulillah, kami berusaha bimbing mereka lebih baik dalam ilmu agamanya. Suatu saat nanti Lani yang akan jadi guru dan pembimbing ngaji saya...hehe...

Beda sikapnya dengan Emily, dia lagi senang nulia dan ngoprek.. ketika saya ngaji ditemukan kartu" ucapan terselib di meja. Dia dekati saya, dan tiba-tiba, dikecupnya bibir saya ketika mengaji...diucapin:" I love you, mam, ..coba lihat..." tangan satunya sibuk selipkan kartu ..."mah...baca ya!".. kartu cinta dari Emily, dengan posisi berbaring dia bilang:"itu buat mama, cinta aku". So sweet Emily....

Nuansa Sholat dan mengaji meskipun saya mengangfp kadang seperti gangguan, justru mereka sedang asik belajar dan mengekspresikan dirinya. Mereka melihat sikap saya buat mereka, mereka belajar dari kesabaran saya menghadapi sikap mereka. Saya yakin disetiap kekurangan saya, disetiap ucapan doa saya, Allah mendengar dengan respon sikap mereka. Apapun, kuncinya ikhlas dalam sikap, dan mereka pun ekspresikan dengan ketulusan.